PERSONAL SUBCONSCIOUS COMMUNICATIONS SKILL

PERSONAL SUBCONSCIOUS COMMUNICATIONS SKILL

Baru-baru ini, saya diminta intens melatih seseorang yang sedang punya hajat besar, tentang personal communication skill. Lebih spesifik lagi, tentang personal 'subconscious' communication skill.

Kontennya, bagaimana kita bisa berkomunikasi pada audience, personal ataupun massal, dengan impact komunikasi yang kuat. Bahkan ekstrem.

Saya mulai dengan pertanyaan dasar.

Apakah berkomunikasi di depan massa banyak kita harus punya gaya orasi ala Bung Karno, Hitler atau Bung Tomo?

Apakah berkomunikasi di depan khalayak banyak pesonanya didasarkan pada bagaimana kita jago memilih bunga-bunga kata?

Apakah berkomunikasi di depan orang banyak ditentukan oleh seberapa kuat urat leher terlihat?

Kalo bisa, boleh-boleh saja. Tapi tak semua punya talenta seperti itu. 

Tepatnya, berkomunikasi itu mesti jujur, kita hadir dengan orisinalitas diri kita sendiri. Bukan tiba-tiba harus menjadi orang lain.

Tuhan memberkahi setiap orang unik. Dan di masing-masing keunikan itu, ada kekuatan sendiri-sendiri. Sayangnya, kerap kekuatan ini terkubur, karena kita terlalu terkesiap pada kekuatan orang lain.

Nggak jarang, akhirnya banyak yang coba meniru gaya Bung Karno pidato, gaya si ini, gaya si itu. Hasilnya? Malah hanya menuai cibiran saja.

Mengapa? Karena mereka hanya meniru cangkang, bukan pengetahuan dasar yang Bung Karno atau Hitler miliki saat berdiri di depan audience, personal ataupun massal.

Pengetahuan dasar itu adalah mekanisme mental audience dan bagaimana cara menembusnya lewat bahasa, baik bahasa verbal ataupun nonverbal. Itulah yang saya sebut dengan personal subconscious communication skill.

Bicara dengan dilandasi pengetahuan cukup soal mekanisme mental audience, hasilnya bakal powerful. Dengan cara apapun gaya suara kita sampaikan.

Kalo gaya kita berapi-api, impact-nya seperti letusan gunung yang mampu membakar dan menggerakkan emosi.

Kalo gaya kita tenang, efeknya seperti alir air yang siap menghanyutkan juga menggerakkan emosi.

Komunikasi adalah ihwal menggerakkan emosi, sesuai dengan tujuan, dan pesan apa yang ingin kita sampaikan.

Ketahui peta mental audience kita. Dan saat kita kenali petanya, maka dengan mudah, kita bisa memilih cara paling tepat dan cepat* menyampaikan pesan sesuai tujuan kita.
----

*Cepat dalam arti, bahkan ekstrem hanya butuh hitungan detik.

Asep Herna MindStream.


Komentar