Semua hal selalu bisa dinyinyirin Bahkan yang baik sekalipun
| impian akan menjadi kenyataan jika kita memiliki keberanian untuk mengejarnya. |
Semua hal selalu bisa
dinyinyirin Bahkan yang baik sekalipun
“Percuma juara kelas kalau hafalan quran aja masih dikit”
“Yah percuma aja kuliah tinggi-tinggi kalau sama orang tua aja masih marah-marah”
“Percuma aja punya banyak temen di luar kalau sama saudara sendiri aja gak deket”
“Percuma belajar ilmu eksak sana sini kalau beresin rumah aja gak bisa! Mau jadi istri macam mana?” “Percuma aja menang lomba di mana mana kalau IPK kecil”
“Percuma aja shalat 5 waktu kalo masih suka iri sama sahabat sendiri”
“Yah percuma aja kuliah tinggi-tinggi kalau sama orang tua aja masih marah-marah”
“Percuma aja punya banyak temen di luar kalau sama saudara sendiri aja gak deket”
“Percuma belajar ilmu eksak sana sini kalau beresin rumah aja gak bisa! Mau jadi istri macam mana?” “Percuma aja menang lomba di mana mana kalau IPK kecil”
“Percuma aja shalat 5 waktu kalo masih suka iri sama sahabat sendiri”
Padahal
kita gak pernah tau... Berapa banyak waktu dan tenaga yang dihabiskannya untuk
mencapai hal baik itu Berapa banyak do’a yang ia panjatkan pada Tuhan atas
mimpi tersebut
Betapa sering ia menyesal saat bertengkar dengan orang tua dan mengupayakan untuk bersikap lebih baik kemudian Betapa bahagianya ia saat mendapat juara daripada mendapat IPK bagus
Betapa sering ia menyesal saat bertengkar dengan orang tua dan mengupayakan untuk bersikap lebih baik kemudian Betapa bahagianya ia saat mendapat juara daripada mendapat IPK bagus
Kenapa disepelekan?
Kenapa
kebaikan juga jadi dianggap buruk kalau tidak dilengkapi dengan kebaikan lain?
Apakah maksudnya, lebih baik tidak usah juara kelas, tidak usah belajar, tidak berbakti, tidak hafal alquran, tidak shalat, egois, pelit, tidak menjuarai apapun sekalian saja semua? Toh percuma jika punya kebaikan kalau masih ada keburukan lain?
Begitu?
Apakah maksudnya, lebih baik tidak usah juara kelas, tidak usah belajar, tidak berbakti, tidak hafal alquran, tidak shalat, egois, pelit, tidak menjuarai apapun sekalian saja semua? Toh percuma jika punya kebaikan kalau masih ada keburukan lain?
Begitu?
Kadang kita harus belajar untuk mengajak orang lain
meninggalkan keburukannya tanpa meremehkan kebaikan yang sudah dimilikinya
Bahwa
setiap manusia itu kompleks Ada terlalu banyak hal yang membentuk karakter,
cita-cita, value, dan tujuan hidupnya Yang tidak akan pernah benar-benar kita
pahami seluruhnya
Jadi, siapa kita untuk menilai suatu hal yang telah
diupayakan seseorang itu percuma?
Saat
tahu bahwa ada hal yang perlu diperbaiki dari diri seseorang, tak perlu
menjadikan kebaikan yang sudah ada sebagai suatu yang tiada guna Bantu saja
perbaiki
Sambil tetap mempertahankan yang sudah baik Kalau sekiranya membantu tak mau, sebaiknya hindari berkomentar menyakitkan
Sambil tetap mempertahankan yang sudah baik Kalau sekiranya membantu tak mau, sebaiknya hindari berkomentar menyakitkan
—
Semoga kita dijauhkan dari memandang rendah orang lain
Terlebih pada yang tidak pernah kita habiskan waktu bersamanya
Semoga kita dijauhkan dari memandang rendah orang lain
Terlebih pada yang tidak pernah kita habiskan waktu bersamanya
Komentar
Posting Komentar