Menempuh pendidikan tinggi adalah impiannya by Prof. Rhenal Kasali.
Setelah lulus dari SMA, beliau memiliki uang sebanyak 10 ribu Rupiah untuk mendaftar kuliah. Saat itu formulir pendaftaran sangat mahal dan harga untuk membeli formulir IPA maupun IPS harganya 10 ribu Rupiah.
Dengan berbagai pertimbangan seperti karena memiliki latar SMAnya IPA dan melihat banyaknya daya saing, akhirnya Rhenald Kasali memutuskan untuk memilih melanjutkan study dijalur IPS. Rhenald Kasali akhirnya mengambil Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara karena akan diberi beasiswa jika diterima kuliah di STAN.
Akhirnya beliau diterima di Universitas Indonesia dan beliau berusaha keras untuk menutupi kekurangan dananya dengan bekerja sebagai guru les privat SD yang mengajarkan matematika. Untuk memenuhi kebutuhan bukunya, beliau meminjamnya dari kakak kelas. Saat kuliah beliau hanya memiliki IP sebesar 2,49 dan berkat sebuah keberuntungan beliau mendapat bantuan dana beasiswa pada saat tingkat dua.
Setelah lulus kuliah pada tahun 1985 dan bekerja sebagai reporter sejak tahun 1984. Waktu itu beliau mendapatkan tawaran dari salah satu seniornya untuk menulis case study. Dari sanalah peluang untuk mengajar terbuka lebar karena ia ditawari untuk mengajar.
Setelah mengajar sebagai dosen dan melihat para juniornya banyak yang kembali dari luar negeri dan memiliki mempunyai gelar yang lebih baik, beliau juga ingin meneruskan kembali studynya di luar negeri. Setelah bekerja keras dengan mengajukan banyak beasiswa ke berbagai sponsor, beliau akhirnya dapat bantuan beasiswa tapi hanya intership selama 3 bulan dan bukan biaya utuk sekolah.
Saat temannya yang lain melanjutkan studi S2, beliau kembali pulang ke Indonesia dan terus berusaha untuk mencari dan mendapatkan beasiswa. Dengan berpegang pada prinsip "seburuk apapun kondisinya, berusalah menghadapi!", Akhirnya beliau memberanikan diri untuk menemui bagian yang bertugas menyeleksi para calon penerima beasiswa dan mengatakan yang sejujurnya jika beliau meminta tolong untuk diberikan surat tanda terima.
Akhirnya Rhenald mendapatkan sponsor dan dengan usaha keras inilah yang mengantarkan beliau hingga bisa melanjutkan sekolah S2 dan S3 di Illinouis dan menjadikan beliau seperti saat ini.
Bagi Rhenald Kasali, “Pendidikan adalah tangga untuk keluar dari kemiskinan. Tanpa pendidikan kita tidak bisa memperbaiki hidup kita. Tanpa pendidikan kita tidak bisa mendidik orang lain. Tanpa pendidikan kita tidak bisa mendidik anak-anak kita. Maka kalau saya mau keluar dari belenggu itu, saya harus fight. Karena belenggu itu adanya di sekitar diri kita sendiri. Tidak di mana-mana.
Saya melihat teman saya banyak yang pintar tetapi mereka justru mengabaikan itu. Mereka merasa selalu didatangi dan hampir semua teman saya yang pintar itu ternyata tidak selesai doktornya di Amerika. Sedangkan saya yang tidak pernah merasa pintar waktu itu bisa selesai dan ketika teman saya mengatakan “Saya nggak percaya” dan saya juga mengatakan “Eh, gua juga nggak percaya”.
Seperti kata Michael Angelo, pada setiap batu cadas selalu terkandung patung yang indah. Karena itu tugas kita adalah membebaskan patung itu dari belenggu belenggu yang mengikatnya.”

Komentar
Posting Komentar