Ternyata, Belis di Manggarai Muncul Setelah Ada Wabah Penyakit Cacar
Ternyata, Belis di Manggarai Muncul Setelah Ada Wabah Penyakit Cacar
Belis sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Manggarai. Dalam perkembangannya, kini, belis yang dalam Bahasa Manggarai disebut “paca” semakin dirasa menjadi beban terutama oleh pihak laki-laki. tradisi ini bermula dari wabah penyakit cacar yang melanda Manggarai pada era 1930-an. Penyakit ini, kala itu, tergolong penyakit mematikan. Banyak Koran berjatuhan. Sampai-sampai, orang tidak mau menguburkan jenazah karena takut tertular.
Populasi orang Manggarai saat itu, menurun drastic. Dalam situasi seperti ini, perempuan dianggap sebagai benih (ni’i) berharga yang bisa melanjutkan dan mempertahankan keberadaan keluarga (wa’u). Karena orang Manggarai tidak memperkenankan perkawinan sedarah atau sesama wa’u, maka dibutuhkan perempuan dari wa’u lain untuk mempertahankan eksistensi keluarga. Dalam konteks ini, belis merupakan bentuk penghargaan terhadap keluarga perempuan.
Soal tingginya rendahnya belis, zaman dulu tergantung status sosial seseorang atau keluarga. Dulu, status kebangsawanan menjadi faktor yang menentukan tingginya belis seorang perempuan. Pola yang sama pun terjadi sekarang, meski faktor penentunya adalah jabatan, tingkat ekonomi dan pendidikan. “Sebetulnya, kadang-kadang, belisnya tinggi, tapi sebenarnya sekadar pengumuman ke orang kalau belisnya tinggi. Padahal, tidak dibayar semua itu., “Ini sebuah mekanisme untuk mempertahankan ikatan antara anak wina (keluarga pihak laki0laki) dan anak rona (keluarga pihak perempuan). Karena itu, ada istilah, sida ke anak wina dan ngende ke anak rona. Kalau dibayar penuh, orang rasa ngeri itu.”

Komentar
Posting Komentar