PEMBELOTAN PUAN

  PEMBELOTAN PUAN

Oleh: Yasintus 




1//

            Ada pepatah kuno yang mengatakan “Cinta adalah sesuatu yang tidak Memandang segala hal” Namun Bagi-ku pepatah tersebut Hanya sebatas penghibur selingan Bagi pasangan labil yang belum Mengalami fase-fase kesulitan Perihal Apa yang ku alami saat ini Teramat menyakitkan Tatkala Hati yang tercipta jernih Berikrar setia sampai mati Harus menemui kata patah Yang didefenisikan sebagai Permbelotan dari seorang puan Yang lebih memilih nilai material Dari altar aristokrasi


2//

Puan

            Luka yang kau semaikan Merupakan dalamnya palung Mariana Yang tak dapat diselami oleh Penyelam secara manual Perihal Kita yang telah tinggal seatap Mengenakan baju secara bergantian Saling menyuap nasi dalam satu piring Berakhir secara mudah memejamkan mata Kala Dirimu yang mulai memasuki area Fraksi politik secara perlahan Menjerumuskan dirimu untuk Lebih memprioritaskan harta Dari pada janji semati yang kita gaung kan Di tepi kemegahan senja Mungkin Jika waktu dapat berputar kembali Aku pasti sekuat tenaga melarangmu Masuk dalam area tersebut Yang pada akhirnya mengugurkan Idealisme-mu yang sejajar dengan ku Sebagai barisan yang bersandar pada pilar kiri. 

3//

Puan

            Hangatnya pelukanmu Masih setia menyertai Segala paradigma nalar-ku Yang masih bekerja Dan ku akui Mengenangmu merupakan Suatu hal yang menyakitkan Yang mana Segala  kata-kata puitis-mu Yang kau ucapkan atas dasar nama Tuhan Hanyalah omong kosong belaka Yang sejajar dengan pementasan panggung kampanye

4//

            Dengan raut yang bersimbah Peluh air mata Plasma yang telah membeku Mulai bertanya Masih ingatkah kau tentang Segala kisah kita Kala Abad dua ribu empat belas Kita yang masih tinggal bersama-sama Masih terisi dengan segala perjuangan Yang berdiri dengan suara megafon Membakar ban mobil dengan teriakan penggalan Bung Widji “Satu kata lawan” Waktu itu Kita adalah sepasang kekasih Yang menjadi mimpi buruk Di telinga penguasa nan arogan Perihal Teriakan lantang yang kita ucapkan Adalah suatu kejujuran yang tak bermaksud Mencari nasi bungkus tunggangan elit sakit hati Sebab kita sadar Republik tercinta ini Telah menjadi wadah penampung Konspirasi kapitalis yang menuju Pada penindasan.

5//

Puan

Di balai-balai rumah Yang menjadi tempat kita Bertukar ide Masih terawat secara rutin Memang sempat Ada niatku untuk menghancurkannya Agar bisa membantu-ku melupakanmu secepat dini

Namun Lagi-lagi hatiku selalu Menolak apa yang mau ku perbuat Sebab bayangan-mu adalah Kumpulan sakral yang tak bisa terhapus Seperti mudah meminum air  Perihal Biar bagaimanapun Darimu lah aku bisa mengenal Namanya perjuangan tanpa ketakutan Yang sering berlaku Pada kenangan kita di jalanan Yang selalu sigap  Melontarkan segala argument Tanpa ragu kepada pemimpin Ketika bertatap muka beraudiensi Yang mulanya disebut-sebut oleh Para pendahulu kita sebagai Salah satu bentuk pembunuhan karakter intelektual.

6//

Tak terasa

Sudah lima tahun setengah

Aku hidup tanpa kehadiran dirimu

Dan tiba-tiba ku dengar

Kabar dari salah satu sobat

Bahwa kau akan maju sebagai

Calon legislatif perwakilan dari fraksi

Jujur

Antara bangga dan duka aku mendengar

Kabar tersebut

Bangga

Karena semenjak kau meninggalkan-ku

Kau telah menjadi tokoh politik

Yang disegani

Duka

Karena semenjak juga kau meninggalkan-ku

Kau makin dekat menjadi pelacur di birokrat

Perihal

Ketika kau menjadi bagian dari fraksi

Kau tegas melarang ku untuk bersuara lawan

Pada pemimpin negeri yang notabene sebagai bagian

Dari fraksi-mu tersebut

7//

Langit biru kembali menua

Membuka gerbang malam

Berkedip bintang

Aku

Yang berdiri lemah

Mengigit bibir dengan kuat

Menahan nafas berhembus sesak

Perihal

Di malam ini

Tercipta peringatan

Kau memilih pergi

Tatkala

Malam itu yang masih bertunas mula

Kita masih menyempatkan diri

Berhubungan badan dengan proses

Mengejar kenikmatan minoritas

Yang diselingi dengan lumatan bibir

Aspirasi yang berludah juang

Hingga saling menyusui di antara puting

Bekas peluru aparat

Yang berlanjut

Pada terjangan tempur kelamin

Yang bergerak masuk keluar

Menghasilkan butir putih amarah

Kepada pemangku

Dan momen tersebut

Adalah momen terakhir kita

Berdua bersama-sama

Perihal

Semenjak hal itu terjadi

Tepat pukul sepuluh malam

Kau langsung bergegas

Meninggalkanku tanpa

Sepatah maaf

Masih ku ingat

Parkiran mobil Avanza

Yang mengambilmu dari-ku

Dengan segulung kata-kata

Yang tak ku sangka keluar dari mulut-mu

Bahwa

“Aku mencintaimu karena aku kesepian

Bukan karena ketulusan

Serta hubungan yang hakiki

Terpegang erat jika terdapat

Sekumpulan harta yang menghiasi hari-hari

Yang jelas takkan pernah mampir dalam kehidupan

Bersama-mu yang lebih mementingkan berjuang

Dari pada melamar menjadi bagian dari politik”

8//

Puan

Ya memang aku mengakui

Bahwa kehidupan takkan

Berwarna jika tak memiliki

Sekarung rupiah

Dan mungkin saja

Ini menjadi alibi

Darimu untuk meninggalkan-ku

Namun

Perlu kau ketahui

Jalan yang kau tempuh

Merupakan sesuatu yang salah

Sebab

Fraksi yang kini menjadi kediaman-mu

Adalah bagian yang sangat haus akan kekuasaan

Ha

Tapi biarlah sudah

Yang terjadi

Terjadilah

Karena walaupun

Aku harus terkurung dalam ratapan

Langit ketujuh

Aku takkan pernah sekalipun

Mengadaikan idealisme-ku kepada

Saku-saku elit fraksi

Sebab bagiku

Lebih mulia hidup sampai mati

Menjadi miskin yang terhormat

Dari pada menjadi kaya hasil

Rampokan

Jayapura, 04-09-20

Komentar

Posting Komentar